Operasi Strabismus

Saya mau cerita tentang operasi strabismus pada anak saya. Mungkin ada yang nyasar ke blog ini ketika sedang mencari tahu mengenai hal ini. Oke, jadi strabiusmus itu apakah? Yup. It's mata juling. Bisa juling ke luar (exotropia), atau ke dalam (esotropia). Esotropia (bola mata mengarah ke dalam) biasanya lebih sering dijumpai pada anak-anak, dan  pada bayi bisa timbul pseudostrabismus yang mana merupakan hal normal yang tidak perlu dikhawatirkan.

Jadi, anak saya Ashfi baru saja melewati operasi mata untuk mengkoreksi strabismus di mata kirinya yang mulai terlihat juling pada usia sekitar 2.5 tahun. Memang terlihatnya sekali-kali; ketika dipanggil dari jarak agak jauh, atau jika sedang serius (melihat fokus), misalnya. Tahun 2014, kami membawa Bontik ke Jakarta Eye Center di Menteng, dan oleh dokternya disarankan untuk operasi. Kemudian kami mencari second opinion ke Kuala Lumpur, Malaysia. Dari hasil browsing-browsing, saya ketemu satu dokter yang reviewnya cukup bagus, yaitu dr. Choong Yee Fong di International Specialist Eye Center (ISEC). ISEC ini sendiri ada di KL, Penang, dan Singapore. Dari konsultasi dengan dr. Choong, Beliau juga menyarankan hal yang sama, yaitu operasi. Alasannya, derajat strabismusnya lumayan besar (>45derajat) dan dikhawatirkan akan menyebabkan mata malas (pada mata yang sakit) serta gangguan penglihatan binokular. Ashfi sendiri saat itu sudah mengeluhkan penglihatan ganda yang lazim dialami anak-anak dengan strabismus (walaupun hanya sekali-kali ketika julingnya muncul). Selain alasan itu, juga dikhawatirkan juling akan menetap pada saat dewasa dan mengganggu kosmetika serta fungsi2 yang tadi di atas. Memang tidak semua kasus juling pada anak harus dioperasi, ada juga yang dapat ditangani dengan eye pacth atau kacamata, namun pada kasus anak saya, 2 dokter menyarankan operasi sebelum usia 7 tahun.

Jadilah 2 bulan setelah kunjungan pertama kami menjadwalkan operasi untuk Ashfi. Dokter bilang, operasi tidak akan lama, dan efek samping sikit je. 15 minit lah, dah siap. Tapi karna budak, payah general anestesia lah. 

Yo, mau cuma operasi kutil juga yang namanya anak sendiri dioperasi ya kebat-kebit pastinya. Hingga hari H, saya terus-terusan mikir yang engga-engga. Kepikiran gimana kalau nanti anak saya ga bangun lagi dari anestesi? atau kayak kasus yang ternyata gas anestesinya keliru? atau gimana kalau matanya malah makin juling? Sepanjang jalan dari apartemen ke klinik mata saya terus susah dan ga bisa tenang rasanya.

Sampai ke ISEC, kami langsung naik ke lantai 7 dan sudah ditunggu oleh dokter anestesi. Setelah dijelaskan mengenai risiko anestesi umum dan lain-lain serta menandatangani informed consent (di situ saya menyadari beratnya melakukan hal semacam ini), Ashfi dan saya berganti pakaian untuk siap-siap masuk ke ruang operasi. Oh iya, sebelum itu mata Ashfi diberi tetes mata, yang mana anak-anak sudah pasti tak nyaman dan memberontak. Beitou yang ikut lihat langsung nangis (perkara setia sama sodara, ini bocah juara lah). Lucunya, ketika ditanya kenapa nangis, jawabannya: "Pusing kali kepala Beitou" XD

Rasanya waktu itu semua serba cepat. Sambil menunggu saya dan Ashfi bergenggaman tangan dan saya tahu dia bingung dan khawatir. Bahkan sudah saya rasakan sepanjang perjalanan di taksi dia tidak banyak bicara. Dia juga belum paham benar operasi itu seperti apa. Sebelumnya sudah saya jelaskan dengan sesederhana mungkin, bahwa dia akan tidur lalu matanya diperiksa. "Ga sakit kan, Ma?" hanya itu pertanyaannya. 

Kemudian kami dipanggil masuk. Tidak ada ciuman dari Ayah dan Adik karena mungkin semua gugup jadi lupa. Sampai ke dalam, dengan enggan Ashfi naik ke meja operasi, lebih tepatnya, dia takut. Setelah diyakinkan Ibunya ada di belakangnya (saya berdiri di belakang kepalanya), dia mau tidur di meja operasi. Namun tak lama, dia kembali memberontak karena tidak mau mulutnya ditutup dengan masker oksigen. Dia benar-benar memberontak sekuat tenaga. Saya bujuk dia untuk ucapkan bismillah dan Al-Fatihah, dan Ashfi menuruti sambil menangis sampai akhirnya suaranya hilang karena dia sudah terbius. Saya sudah nangis waktu itu. Asli, walaupun tak terhitung banyaknya saya ikut ke dalam ruang operasi sebagai co-asisten, melihat anak sendiri dibius adalah pengalaman yang tidak terkatakan. Semua pikiran negatif datang bersamaan dan hati rasanya hancur. Dokter meminta saya segera keluar dan butuh meyakinkan saya beberapa kali jika Ashfi akan baik-baik saja. Kemudian saya menunggu di sofa bersama Adhit dan Beitou. Mereka juga tak banyak bicara. 

Rasanya itu adalah 30 menit terlama yang pernah saya habiskan sepanjang umur saya. 

Tapi benar saja kata dokternya, operasinya memang tidak lama. Kira-kira 45 menit lah dengan anestesi dll. Ketika dibawa ke ruang observasi, Ashfi masih tidur. Tak lama kemudian dia mulai sadar dan melawan kemudian menangis. Air mata sebesar-besar biji jagung keluar. Beitou super baik saat itu, permen-permen yang dia ambil dari meja reception (XD) disimpan untuk kakaknya.  Awalnya Ashfi mengeluh matanya sakit, namun tidak lama. Dokter sudah memperingatkan akan terasa seperti ada benda mengganjal di kedua mata dan tidak boleh dikucek. Tetap saja, Ashfi takut membuka mata. Ada sekitar 1 jam kami membujuknya untuk membuka mata.

selesai operasi, masih belum sadar dari bius 
Setelah makan biskuit kami diizinkan pulang. Mata Ashfi saat itu merah seperti mata vampir. Serius, merah banget. Air mata terus keluar dan kata perawat tidak apa-apa. Ashfi bahkan boleh langsung beraktivitas namun sebaiknya memang istirahat yang banyak karena masih dalam pengaruh anestesi sedikit-sedikit. Nah karena... ISEC berada di dalam kompleks mall yang gede (ihiy!), akhirnya kami jalan-jalan sedikit dan makan siang di sana. 

Malamnya kembali pikiran paranoid saya datang, saya ga tidur semalaman. Apalagi melihat mata dia yang makin juling, bahkan sekarang dua-duanya juling ke dalam, huhuhu (Kedua mata Ashfi dioperasi, btw). Saat itu saya berpikir jika operasi tidak berhasil dan malah membuat dia tambah juling, saya ga akan berhenti menyalahkan diri saya seumur hidup. Apalagi Ashfi malah mengeluh jadi tambah sering lihat double, dan dia sepertinya tertular energi negatif dari saya, jadi banyak menunduk dan diam. Somehow I thought she knew I'm worrying her. What have I done to my girl? Too many what ifs that night..

Penutup mata khusus untuk tidur. Pakai ini sekitar 1 minggu
Esoknya kami post-op check ke dokter Choong, dan Beliau mengatakan jika double vision itu biasa dan memang ketika operasi matanya dibuat agak juling ke dalam, dengan harapan saat penyembuhan matanya akan kembali tertarik ke posisi tengah. Masa penyembuhan sekitar 1- 2 minggu. Selama 1 minggu mata tidak boleh kena air dan jika tidur Ashfi memakai kacamata khusus untuk menghindari mata terkucek. Sebenarnya hal-hal seperti ini sudah saya baca-baca sebelumnya namun tetap saja namanya Ibu-Ibu gampang parno ya.

Jadi, bagaimana penyembuhannya? Merahnya hilang total sekitar minggu ke-dua, dan sampai saat ini julingnya tidak pernah tampak lagi. Double vision juga tidak ada. 1 bulan setelah operasi kami melakukan cek mata lagi ke Kuala Lumpur, dan syukurlah hasilnya baik sekali. Memang bekas operasi (seperti gumpalan putih) masih ada sedikit di pinggir bola mata, namun dokter Choong bilang bekas itu akan hilang sendiri.

Alhamdulillah.


Buat yang mau tanya-tanya, silakan komen saja di bawah ya :)

0 comments:

Post a Comment