Ignorance


Siang tadi saya sedang menyusuri Banda Aceh yang sedang dipanggang matahari bersama bocah-bocah. Ketika hendak berbelok dari jalan raya di depan kantor gubernur, terlihat seorang anak laki-laki berusia sekitar9-10 tahun duduk di halte dengan wajah ingin menangis. Telanjang. Ya, telanjang bulat.

Saya terkejut namun tetap membelokkan setir ke kiri, sementara dalam pikiran terjadi perdebatan singkat apakah saya akan kembali untuk melihat anak kali-laki itu, atau ya sudahlah, mungkin dia memang (maaf) orang “gila” seperti yang beberapa kali dijumpai di pinggir jalan, yang mungkin sudah keluar masuk RSJ atau panti sosial dan berada di bawah pengawasan Dinas Sosial (walau saya tidak tau apakah “mereka” yang beredar di jalan ini benar berada di bawah pengawasan Dinas Sosial atau tidak. Ini hanya harapan saya saja).

“Ah, harus balik. Anak itu telanjang. Jangan-jangan dia korban kekerasan seksual” (hari gini ya, dengan macam2 berita di koran, wajar terpikir seperti ini kan?)
“Tapi kalau ternyata itu jebakan gimana? Ternyata ada perampok atau tukang hipnotis di belakangnya”
“Yailah, mana ada rampok siang bolong di pinggir jalan raya?”
“Tapi nanti diliat sama orang, dikirain sok pahlawan”
“Ya Allah sempat-sempatnya mikir gini!”

Kalau dalam Inside Out, mungkin gitu dialog tokoh-tokoh dalam otak saya siang tadi.

Dan si Logic menang. Saya langsung memutar setir dan balik ke halte.
Syukurlah anak itu masih di situ. Badannya cukup bersih dan mukanya cukup ganteng, tidak ada tanda-tanda tidak terawat.
Saya turun dan mengunci mobil dari luar (masih parno soal rampok atau hipnotis)

“Dek, ngapain di sini, Ibunya mana?”
Dia makin mau nangis
“Soe nan dek ? Ho Mak? Pat Tinggai?” Mungkin dia ga ngerti Bahasa Indonesia.
“Yah, Yah” Jawabnya sambal nunjuk ke kantor gubernur
“Pat Yah?”
“Yah, Yah”
“Pakon hana sok bajee? Preh beuh, lon cok bajee”

Lalu ketika saya balik ke mobil untuk ambil minum dan baju plus celana dalam Beitou yg kebetulan saya bawa, anak itu lari pontang-panting ke jalan. Lah, gimana dong, anaknya kabur. Tapi tidak lama kemudian dia balik lagi dan berdiri di samping mobil. Saya yang sudah dalam mobil membuka jendela sedikit (masih parno rampok, yasalaaam) dan menjulurkan sebotol Fresh Tea dan celana dalam. Dia mengambil keduanya lalu diam saja.

“sok sileuweu, bek lagee nyan”, seru saya dari dalam mobil.

Dia tetap diam. Waduh, sepertinya dia tidak bisa pakai celana sendiri.
Saya turun ke trotoar dan memakaikan dia celana dalam dan membukakan tutup teh botolan. Dia minum sedikit. Waktu itu kepikiran untuk membawa ke kantor polisi, tapi lagi-lagi pikiran parno menyerbu, gimana kalau anak ini (((tukang hipnotis)))? Atau dia ngamuk dalam mobil? Mau hubungi orang lain juga ga bisa, karena no hp di-block gara-gara belum dibayar *curcol dikit*.
Lalu tiba-tiba saat sedang mikir mau ngapain, datang seorang anak muda dengan sepeda motor. Anak muda tersebut mengaku tetangga si anak kecil ini. Sebagai seorang yang suka parno tentu saja saya curiga dong, jangan-jangan ini penjahat atau predator anak-anak (sorry, Nak Muda). Tapi dari penampilannya sih seperti anak kuliahan baik-baik ya..

“Dia anak tetangga saya, Kak. Capek kami cari dari tadi. Dia tadi lari, abis saya usir karena ganggu saya buat tugas”
“yok, pulang” Kata Anak-Muda-Tampang-Kuliahan kepada si anak hilang. Si Bocah tetap bergeming. Setelah kami bujuk, anak itu akhirnya naik ke motor.

“Betul tetangganya?”
“Iya Kak. Demi Allah. Ikut aja, Kak, kalau ga percaya. Itu rumahnya di belakang situ”
Dan syukurlah sepertinya memang Anak-Muda-Tampang-Kuliahan itu ga bohong, karena tidak lama kemudian (oh, saya ikutin dong, jelas) si anak hilang langsung turun dari motor dan  memeluk seorang ibu paruh baya yang sedang duduk di depan rumah. Muka Ibu ini mirip dengannya (penting ini).

But, we still have to make sure, right?

“Betul ini anak Ibu?”
“Iya, anak saya ini kelainan, Dek”
“Oh, Alhamdulillah”

Tiba-tiba si anak hilang mendekati saya dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman. 

Dia tersenyum.

Detik itu juga, saya bersyukur tidak mengabaikan kata hati saya. Tidak terbayang kalau saya cuek saja, pasti malam ini saya sedang menyesal karena tidak melakukan apa-apa.

di perjalanan pulang, Beitou nyeletuk, "Ma, kolol beitou kok dikasi yg walna ijau, kenapa bukan yg melah aja"


0 comments:

Post a Comment