Menggenapkan Supernova: KPBJ - IEP


Ini bukan review. Jadi nyaris tidak ada spoiler di sini. Jangan khawatir. *takut digebuk*
Ini cuma kepengin nulis aja, berhubung semalam udah nyelesein buku terakhir dari serial Supernova: Intelegensi Embun Pagi (IEP).

Pertama kali saya berkenalan dengan Supernova itu tahun 2002. Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ). Sampul bukunya masih warna biru dengan gambar ala-ala futuristik(?) atau milenium(?) gitu. Waktu itu masih SMA, dan baru setelah saya baca ulang waktu kuliah, saya jadi agak mengerti ceritanya, hehe. KPBJ, seri pertama, dan langsung memusingkan dengan teori chaos, kuantum, Freud dan temen-temennya. Confusing yet interesting.

Dilanjutkan kemudian oleh Akar dan Petir. Akar menurut saya yang paling 'eksotik' dan Petir yag paling kocak sekaligus paling ga 'berat'. Iya, buat saya membaca Supernova itu tidak semudah membaca novel-novel lain. Butuh mikir keras, hahaha.

Lalu Partikel terbit di 2012. Karena tahun segitu sedang sekolah di luar negeri, dan ga ada yang bisa dititipin beli (plus, udah ga nafsu pengin baca cepat-cepat karena jarak terbit Petir-Partikel yang terlalu lama), saya baru bisa baca di 2014. Telat dua tahun. Nah, di Partikel ada bab yang buat saya membosankan dan bikin saya berhenti baca. Mungkin karena saya tidak terlalu tertarik dengan ritual-ritual berbau mistis di dalamnya (tapi tetap saja saya google apa itu iboga, enteogen, jamur Amanita muscaria, dll.) Iya, setiap seri Supernova slalu penuh dengan pengetahuan-pengetahuan baru dan kadang aneh yang bikin penasaran. Partikel sendiri menurut saya memunculkan sisi spiritual Dee terkait Tuhan dan posisi manusia-alam semesta. Mengingatkan saya akan satu tulisan Dee di blog nya dahulu. Meskipun saya sempat berhenti membaca Partikel, namun justru di seri yang ini saya sampai menangis, berkali-kali. Kenapa? karena saya merasa Zarah - sang tokoh utama - adalah sosok yang paling bisa di-relate dengan saya. Hingga akhirnya menutup buku, saya tidak menyukai Zarah, karena menurut saya dia pengecut yang kabur dari kenyataan, keras kepala, dan kadang terlalu naif. (or maybe because I found myself in her?)

Gelombang saya baca setahun setelah Partikel. Dan ini favorit! walau banyak yang bilang Alfa is too good to be true, biarin deh, saya terlanjur jatuh cinta pada Thomas Alfa Edison Sagala. Gelombang (and his life as Alfa Sagala) is the coolest! Saya suka sekali bagaimana Dee memasukkan unsur batak menjadi bagian yang bukan sekadar setting cerita, namun menjadi bagian yang menyatu dan personal dari Gelombang. Setiap ada dialog keluarga Alfa, otak ini otomatis membaca dengan logat batak, haha. Di Gelombang pula, petunjuk tentang cerita Supernova mulai terbaca.

Lalu di sinilah saya, di penghujung akhir dari ledakan Supernova: Intelegensi Embun Pagi. Saya tidak ikut PO, karena saya memang bukan tipe pemburu tanda tangan penulis (well, kecuali suatu saat saya kebetulan bertemu Dee dan sedang membawa buku-bukunya, pasti saya minta tanda tangan dong). Saya membeli IEP di hari pertamanya rilis di toko buku. Sepulang kerja saya mampir di Gramedia dan langsung dong, diunggah ke facebook. Bukan, bukan biar keliatan nge-hits atau dapat "like", tapi saya tau, beberapa teman juga penggila Supernova, dan saya ingin mengalami IEP bersama, sambil bikin sirik teman yang belum bisa baca karena masih di luar negeri :p

IEP saya selesaikan kurang lebih 24 jam. Termasuk cepat untuk buku dengan 700-an halaman. Gelombang yang jadi favorit saja dan hanya 400-an halaman saya baca sekitar 3 hari. Saya memang bukan pembaca buku yang buru-buru, justru untuk buku yang saya suka, saya membacanya lambat-lambat, membolak-balik halamannya jika ada yang tidak saya mengerti. Dengan IEP, saya hampir tidak meletakkan bukunya karena didorong oleh penasaran; Supernova ini sebenarnya tentang apa sih? Saya rasa semua pembaca Supernova berharap semua penasaran akan dituntaskan di IEP. Membaca IEP seperti naik roller coaster. Kita akan diajak larut, lalu berhenti sebentar untuk menarik napas (mungkin sambil menggumam: ini gila!). Karakter setiap tokoh di IEP tetap konsisten dengan buku-buku sebelumnya. Gio tidak lagi menjadi "tempelan" di IEP, sementara Elektra masih tetap agak absurd, Bodhi masih rumit, Alfa tetap cool dan gemesin (teteup :p), dan Zarah, yang tetap bisa membuat saya menangis di satu scene nya. Tapi saya senang, Dee memutuskan akhir yang damai untuk hati Zarah.

Kemudian pertanyaannya adalah, apakah IEP menjawab pertanyaan-pertanyaan akan Supernova? buat saya jawabannya: ya dan tidak. Ya, untuk hampir semua pertanyaan terkait jejaring konektivitas, jalan cerita, dan hal-hal lainnya yang tampak. Tidak, untuk pertanyaan-pertanyaan mengenai hidup itu sendiri (yang menjadi esensi ceritanya, menurut saya). Mungkin untuk menjawab ini saya butuh membaca IEP sekali atau dua kali lagi. Atau, Dee memang membiarkan pembacanya untuk merenungkan sendiri. Supernova memang tidak membiarkan kita sekadar "membaca", namun juga "mengalami". Pembaca seperti ikut masuk ke dalamnya, diajak bertualang sekaligus berpikir di luar hal-hal kasat mata. Diajak berguncang dengan kegilaan-kegilaan yang tak terbayangkan. Dee is a genious. Saya sampai bertanya-tanya, jangan-jangan Dee memang penah diculik alien, lalu dibedah otaknya, sehingga bisa punya ide untuk menulis manuskrip seperti Supernova?

Saya memilih percaya bahwa Supernova bukanlah satu kebetulan. 

Terakhir, seperti di dalam bukunya; sebuah akhir akan melahirkan sebuah awal. Kata "Tamat" akan menggiring kita ke "Pendahuluan" yang baru. Mari berdoa, Jama'ah Mamak Suri!

Ps: Jika entah bagaimana caranya Dee sempat membaca tulisan ini, dan jika suatu hari nanti Dee berniat melanjutkan cerita Para Peretas, please please plase bring back Mamak Sondang and her son. I beg you.

0 comments:

Post a Comment