Memanusiakan Manusia (Tanpa Kain di Kepalanya)


Familiar dengan gambar di atas? saya salah seorang yang mengaminkannya. dulu.
Memang tidak salah sih, permen yang tidak dibungkus memang lebih berpeluang didekati oleh lalat atau semut daripada yang masih dibungkus. kemudian ada juga gambar yang membandingkan henpon yang diberi casing dan yang tidak (lalu ada yang meng-counter dengan: tergantung henpon nya, kalau yang non-casing itu iPhone, lalu yang ber-casing itu Mito, ya pilih iPhone lah. ehehe)

lalu, terlintas di wall facebook saya gambar ini: 


Kesan saya: penulis awal tulisan ini jahat pada manusia. pada perempuan. coba baca kalimat ini:

"bagaimana seharusnya kami boleh menikmati paha mbaknya biar mbak merasa nyaman dan kita bisa sama_sama menikmati, agar saya merasa aman dalam menikmati, dan mbaknya nikmat juga dilihati ?”

Entahlah, kalimat di atas bagi saya terdengar nyelekit dan melecehkan. Kita tidak tahu apa tujuan orang berpakaian terbuka (ataukah karena kita manusia super, paranormal, boleh kita sama ratakan saja, bahwa tujuannya sudah pasti agar terlihat menarik untuk digoda?) Apapun tujuannya, apakah karena orang tersebut berpakaian terbuka, lantas kita kehilangan akal pikiran? dan kemudian "menikmati paha si mbak"? oh mungkin saja, jika isi otakmu sepenuhnya hal-hal seputar paha dan selangkangan. bagi saya, "menuduh" orang berpakaian mini itu agar "dapat dinikmati" oleh orang lain - terutama lawan jenis - itu merendahkan manusia lain. 

yang membuat saya tidak habis pikir, beberapa teman yang menulis soal "menkmati-dinikmati" ini justru adalah perempuan. memang tidak salah, kadang perempuan bisa lebih kejam pada sesama perempuan. Btw, foto yang digunakan untuk ilustrasi tulisan di atas adalah foto seorang artis - yang juga anggota DPR - sedang duduk di ruang rapat dengan rok mini. dan mungkin penulisnya tidak tahu atau lupa, artis tersebut, yang pahanya "dinikmati" oleh mereka-mereka itu sekarang berhijab. ya, lagi-lagi karena kita manusia super, paranormal, kita tahu pasti bahwa si artis tidak akan keberatan jika fotonya yang seperti itu dijadikan ilustrasi tulisan tersebut.

Yang lebih konyol, perempuan bahkan disamakan dengan tambang emas.

"kamu akan selalu menarik penambang ilegal untuk datang dan menambangmu secara ilegal. Semua orang hanya akan mengambil instrumen mentah dan menggali dengan bebas."

Pardon my french, but sentences above are sucks at it best. kesannya perempuan yang berpakaian terbuka, yang tidak menutup aurat, adalah objek yang bebas untuk diapa-apain, dan perempuan tersebut seakan-akan membiarkan atau tidak berdaya apapun. ada yang salah dengan orang-orang yang berpikir mereka lebih superior seperti ini. serius.

Oh jangan salah, saya setuju orang harus berpakaian sesuai dengan tempatnya. walaupun hak setiap orang untuk berpakaian seperti apapun, ya lihat-lihat juga. kalau naik angkot misalnya, ya sebaiknya tidak pakai pakaian dengan belahan dada rendah atau rok super mini. saya tidak akan bilang karena hanya akan memancing pelecehan atau lebih buruk lagi; perkosaan, karena sudah cukup banyak kasus pelecehan/perkosaan yang korbannya adalah perempuan (atau bahkan laki-laki) yang berpakaian tertutup. ini soal kepatutan, dan menghindari tatapan orang yang sedikit kurang isi otaknya suka "menikmati" itu tadi.

Kembali ke analogi permen dibungkus tadi, jika perempuan disamakan dengan permen, apakah laki-laki rela disamakan dengan lalat? lalat yang tak berakal pikiran itu? oh.

Jangan karena kita atau istri atau pacar atau tetangga kita berhijab, tertutup rapat, lantas kita bisa bebas mem-permen-kan manusia lain, atau bahkan lebih buruk lagi: mendegradasi diri sendiri menjadi lalat. yang kadang mainnya di jamban.

jangan jahat jadi manusia.


disclaimer: saya tidak membahas perkara kewajiban menutup aurat, tolong jangan salah fokus yes :)


0 comments:

Post a Comment