Sekolah untuk Bontik



Hallo, Bu Ibu yang lagi ribet nyari sekolahan anaknya!

So, tahun ini my Botantika akan masuk SD! Wihiw, cepatnya waktu berlalu. ga kerasa makin tua aja kita (eh, kita??!). Sebenarnya tahun ini belum umurnya masuk SD juga sih si Bontik, masih 5 tahun, tapi berhubung anaknya udah bosen TK terus, ya dimasukkanlah dia ke SD. Awalnya kepikiran untuk ga usah sekolah dulu setaun, atau lanjutin TK nya setaun lagi, tapi pas ditawarin opsi-opsi itu, anaknya ngomong gini: “Kak Pia suka sekolah. Kawan kak Pia semua masuk SD, ga ada yg TK lagi” yaa sedih la mamaknya ya kan, dengar anaknya ngomong gitu.. Ya wajar aja sih Bontik ngomong gitu. Umur 3 dia udah masuk playgroup di Taipei, lalu playgroup di Aceh, sambung lagi TK A-B di Medan, jadi kayaknnya dia bosen sekolah ‘main-main’. Okelah, kita masuk SD, tapi kalau dia ga sanggup, kita brenti dulu J


Nah, ternyata saudari-saudari, mencari sekolah yang sesuai sama kita itu ga gampang yes. Semacam mau kawinin anak gitu *halah*. Bukan apa-apa, membaca dan menonton berita tentang anak-anak zaman sekarang ini banyak yang bikin miris meringis eeew. Apa ya.. kok kayaknya anak-anak terlalu cepat ‘besar’ dan ‘gaul’, dan saya ga pengen anak saya gitu, pengennya ya berkembang sesuai usianya aja. Jadilah anak-anak yang memang seperti anak-anak, bukan tante-tante  perempuan dewasa versi minion. Eh..

Kembali ke pencarian sekolah yang seperti pencarian kitab suci Sun Go Kong, saya pun browsing dan tanya sana-sini tentang sekolah di Medan. Dapat beberapa calon sekolah yang sesuai kriteria saya. Kriteria pemilihan sekolah ini bisa jadi sama dengan orangtua lain, tapi mungkin juga berbeda, it’s okay, tho. Every parents have their own parenting style and concern, rite?

Dari awal saya pengennya Bontik masuk sekolah berbasis agama (SDIT/Sekolah Dasar Islam Terpadu). Kenapa? Ya karena itu tadi, saya khawatir sama anak-anak zaman sekarang. Menurut kami, masa SD itu seperti pondasi suatu bangunan, harus kuat, dan kita pengen Bontik punya pondasi agama yang kuat sejak kecil. Jadi ketika nanti dia besar, dia tidak mudah terombang-ambing oleh angin taifun sekalipun *apeu* ya gitulah pokoknya..

Setelah jenis sekolah, hal lain yang jadi concern saya adalah jarak. Saya bikin batas memang, bahwa jarak terjauh SD Bontik adalah daerah Setia Budi. Bukan apa-apa, kalau kejauhan kasian anaknya ntar kecapean di jalan, apalagi Bontik mau ga mau mesti jadi Pejuang Kp. Lalang yang macetnya kombinasi antara angkot, truk, bus AKAP, becak motor, sepeda motor, mobil, dan inang-inang penjual sayur. Bisa-bisa kalau sekolahnya di Pancing, misalnya, Bontik bukan cuma terlalu cepat dewasa, tapi malah jadi penuaan dini.

Next, sekolahnya sendiri. Mulai dari bangunan fisik, fasilitas, guru, kurikulum, metode pembelajaran, kegiatan ekstrakurikuler, dan teman-temannya. Saya nyari SD yang ga gabung sama anak SMP apalagi SMA, jadi memang yang sekolahnya hanya SD saja, atau PG-TK-SD. Kalau ga ada lain, maksimal SMP boleh lah. Hal ini jadi tantangan yang lumayun memang di Medan ini, karena kebanyakan sekolah/SDIT unggulan di sini bangunannya gabung dari TK sampai SMA, atau paling tidak satu lingkungan, yang masih memungkinkan anak SD nya untuk liat tingkah polah anak SMA. Seperti yang saya lihat di satu sekolah, ketika jam istirahat, dua anak SD duduk hadap-hadapan dengan beberapa anak SMA, sibuk dengan handphone masing-masing K. Kekhawatiran saya sih lebih karena ga pengen Bontik ter-ekspose dengan hal-hal yang dia belum ngerti, bahasa ‘anak gede’, dan semacamnya. Apalagi Bontik ini sepertinya anaknya tipe observer, khawatir dia meniru hal-hal yang belum sesuai dengan usianya. Gitu.

Nah, akhirnya ketemu satu sekolah yang cocok; SDIT Bunayya. Di Sana hanya ada anak PG-TK-SD. Pertama kali masuk saya langsung suka! Suasananya adem gitu, ga rame, dan sepertinya nyaman buat belajar. Sayangnya, saya telat, kelas sudah full. Sudah membujuk Ibu Gurunya agar bersedia menerima satu murid lagi, tapi ternyata waiting list nya juga sudah banyak.. hiks. *patah hati*

Selanjutnya, Fasilitas. Ya standarlah, ada ini itu apa ga. Ini ga saklek sih sebenarnya, ga mesti yang modern-modern banget juga. Buat saya yang lebih penting itu kurikulum, metode pembelajaran, dan guru. Apakah kurikulumnya ikut kurikulum nasional, lalu apa-apa saja yang akan dipelajari anak kita di SD tersebut, adakah ditanamkan akhlak/perilaku yang baik dalam kegiatan di sekolah, apakah bilingual/tidak, apakah belajarnya monoton (guru menerangkan, murid duduk manis) atau semua yang di kelas didorong untuk aktif (active learning), apakah ada field trip, apakah guru-gurunya cukup kompeten (dalam artian memang lulusan Fakultas Keguruan), dll.

Dan yang terakhir, biaya. Benar, memang memilih sekolah harus disesuaikan dengan budget yang kita punya, saya pun melakukan penyaringan ini. Kalau yang uang pembangunannya bisa buat DP mobil, ya kami nehi juga. Belum mampu, Boy. Jadi awalnya dicarikan sekolah yang range nya kira-kira masih sanggup untuk dipenuhi, kalau dapat sekolah yang kriterianya cocok, dengan biaya yang juga ga bikin sakitnya-tuh-di-kantong, Alhamdulillah banget! Tapi kalau ga dapat yang begitu, dan sekolah unggulan yang biayanya bikin kita makan nasi aking dua bulan memang bagus dan cocok, ya akan diusahakan lah untuk biayanya. Apa yang nggak untuk anak, gitu kata orangtua zaman dulu. It may sound cliche, but #itsdamntrue #cieeanaktwitterbanget

Oh iya, ada cerita lucu waktu saya nyari-nyari kitab suci eh sekolah ini, jadi kan, di satu sekolah, saya dipersilakan masuk ke ruang guru (?) dan bertemu Ibu Guru (?) Setelah menyampaikan niat saya ke sana, saya lalu disodori brosur sekolahnya, and guess what, the very first thing she showed me was the price list J Antara memang begitu prosedurnya di situ, atau Ibu Guru (?)merasa  perlu memberitahukan ke saya dulu berapa biaya sekolah di situ sebelum melangkah lebih jauh *tsah*.  Setelah blablabla sekitar 5 menitan (and she wouldn't have explained how the learning process is going on there if I didn’t ask), saya diberitahu jika jadi mendaftar, dapat menuju ke ruang sebelah untuk membeli formulir. Which I didn’t do, of course. Eh bukan berarti sekolah yang begini ga bagus ya, cuma ga cocok aja di saya.

So, that’s all from me, ibu-ibu yang akhirnya memutuskan anaknya untuk sekolah di sekolah National Plus, namanya SD Integritas Bangsa. Sekolah yang masih tegolong baru, yang hanya ada anak PG-TK-SD. Ketika saya datang, saya disambut oleh kepala sekolah dan hal yang pertama dilakukan adalah mengajak saya berkeliling sekolahnya, lalu dijelaskan macam-macam secara lumayan detil. Yang juga membuat saya tertarik, Ibu kepala sekolah juga menjelaskan bahwa murid-murid diarahkan untuk berpikir kritis dan inovatif melalui sistem belajar Critical Thinking dan Robotics melalui permainan puzzle dan lego. Dan dasar ibu-Ibu mudah dirayu brosur, saya langsung suka ketika membaca values yang akan ditanamkan ke anak-anak; Integritas, Kejujuran, Menghargai, Kesopanan, Pertimbangan, Kepercayaan, Ketekunan, dan Bertanggungjawab. Semoga nilai-nilai di atas benar-benar dijalankan dan tidak hanya menjadi sekadar iklan saja (mungkin nanti kalau sudah sekolah, akan saya update di blog ini, kalau ga malas, huehehe)

Apakah itu saja yang bikin saya suka? Oh nggak dong. Kelas nya juga bagus (terbaik di antara sekolah-sekolah yang saya kunjungi), full AC, toilet bersih, ada outdoor playground,  lab komputer, kelas musik, jaraknya ga jauh (tapi tetap harus melewati Kp. Lalang), dan, biayanya Alhamdulillah masih dalam jangkauan kita banget, hore!

Etapi kan saya nyari sekolah berbasis agama kan ya, nah ini malah jadi ke sekolah nasional.. yaa pada akhirnya ada hal-hal yang mau ga mau mesti dikompromikan sih. Saya sempat ragu sebenarnya, tapi positifnya, di sekolah nasional dia akan mengalami ‘dunia kecil’; ada orang Aceh, Batak, Cina, Jawa.. ada orang Islam, kristen, Budha, dll.. Anyway, di sekolah ini ada pelajaran agama Islam (shalat bersama, doa, baca AlQuran), tapi saya rasa ga se-komprhensive di SDIT pasti ya.. tapi kemudian saya mikir lagi, yang saya inginkan bukan hanya Bontik jadi rajin beribadah, tapi juga berakhlak dan berperilaku yang baik, dan sejauh survey kecil saya, sekolah ini cukup memperhatikan aspek-aspek itu. So, supaya pondasi agama Bontik cukup kuat, Bontik akan masuk satu sekolah lagi; Taman Pendidikan Al-Quran :)

Semoga kami tidak salah pilih masa depan untuk Bontik, amin.


washing room and toilet for PG

2 comments:

  1. Bagus sekolahnya dit. Di sini kalau fasilitas sekolahnya begitu awak jual sapi banyak banyak dulu lah....

    ReplyDelete
  2. halo BUN Mel, Alhamdulillahnya yang ini ga pake jual sapi, mungkin karena masih baru, belum jual mahal, hihihi

    ReplyDelete