Sabtu Bersama Bapak


saya jarang menulis review buku. kalau merekomendasikan ke teman sih sering ya. sesuka apapun dengan suatu buku, hampir tidak pernah tergerak tangan ini untuk menuliskan reviewnya. saya bisa cukup bersemangat menceritakan tentang suatu buku, terutama kepada suami yang malas membaca, maunya dibacain dan memaksanya ikut membaca buku tersebut. sayangnya sejauh ini yang berhasil baru serial Supernova, hehe.

tapi kali ini saya ingin menulisnya. menuliskan kesan saya setelah membaca Sabtu Bersama Bapak.

Buku ini saya beli beberapa bulan lalu sebagai calon bacaan di pesawat, namun bukannya jadi teman perjalanan yang baik, saya malah menyelesaikan buku ini dalam beberapa jam saja, di satu Sabtu pagi yang cerah. di rumah. menangis. 

baru beberapa halaman awal saya sudah seperti disindir di sana sini, lalu berurai air mata, lalu tertawa, lalu jleb! jleb! saya seperti dihadapkan dengan diri saya sendiri sebagai orangtua. banyak sekali halaman-halaman di buku kecil ini yang saya lipat, saya tandai, karena berhasil mem-punch saya dengan kuat dengan kalimat-kalimatnya.

"Satya harus memberi contoh kepada Saka. Jadi anak pintar."
"Hmm.. hati-hati, Sayang," ujar Bapak.
"Hati-hati bagaimana? tanya sang Ibu.
"Saya suka sedih setiap kali ada orangtua yang memberi beban seperti itu pada anak sulungnya.
kamu anak sulung, kamu harus kasih contoh untuk adik-adik kamu.
"Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar karena dia sulung. Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan."
"Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya."
"Menjadi panutan adalah tugas orangtua, untuk semua anak." 
 ...ketika orang dewasa mendapatkan atasan yang buruk, mereka akan selalu punya pilihan untuk cari kerja lain. Anak? mereka tidak pernah minta dilahirkan oleh orangtua buruk. dan ketika mendapatkan orangtua yang pemarah, mereka tidak dapat menggantinya.
 di dua bagian itu, asli saya nangis kenceng. rasanya pengin peluk anak-anak saya dan minta maaf...

btw, Sabtu Bersama Bapak bukan buku parenting kok, walau memang banyak sekali pelajaran tentang bagaimana menjadi orangtua di dalamnya. Lebih dari itu, buku ini mengubah cara pandang saya akan hidup. sampai di sini sepertinya saya berhasil membuat buku ini terdengar seperti buku motivasi yang membosankan ya? oh maafkan, buku ini tidak begitu kok, malah bertebaran humor-humor khas Adhitya Mulya dengan catatan-catatan kakinya (bagi yang pernah membaca Jomblo tentu mengerti yang saya maksud). salah satu yang suka adalah bagian email-emailan pegawai di kantor Saka, sudah terbayang kalau dijadikan film, animasi di bagian ini pasti bakalan keren :)). dan adegan epilognya bakal bikin sediiih. ya, buku ini memang sangat film-able. halah, film-able.. :D

dan bagi penganut paham "menikahlah engkau secepatnya," atau "cinta itu saling menutupi kekurangan," atau "ogah gue dijodohin", siap-siap berpikir ulang ya, this book might blown away your perspective. Buku ini memberikan banyaaaak sekali pelajaran tanpa terasa sedang digurui. tentang pentingnya perencanaan dalam hidup, tentang hubungan suami-istri, orangtua-anak, dan tentang pencarian jodoh. buku ini sebaiknya dibaca oleh siapapun; ayah, ibu, calon ayah, calon ibu, anak, laki-laki jomblo yang masih galau, dan.. perempuan yang sedang mencari pendamping hidupnya (highly recommended :p). laki-laki mesti hati-hati pacarnya berubah pikiran setelah baca buku ini, hehe.

akhirul kalam *ehm*, terima kasih untuk pesan-pesannya, Kang Adhitya Mulya. Ditunggu karya-karya lainnya.


- dari pembaca Jomblo sejak zaman SMA, yang kini sudah punya dua anak-

note: kenapa saya pakai foto suami di atas, karena saya ingin Bapak anak-anak saya mau membaca buku ini dan menjadi seperti Satya. atau Saka. atau keduanya dan menjadi Bapak, menjadi suami, yang lebih baik lagi :).

0 comments:

Post a Comment